Forum Ukhuwah Ahlussunnah
Welcome, Guest. Please login or register.

30 July 2010, 08:20:37 PM

Sekarang antum bisa berbagi info kajian atau dauroh di kalender forum ukhuwah alilmu, posting di sini.


Pages: [1]   Go Down
Send this topic | Print
Author Topic: Mohon Nasihat: Aku pun Terpilih Menjadi Ketua RT  (Read 881 times)
0 Members and 1 Guest are viewing this topic.
Abu Harun | Sunniy Salafy
Sunniy
Warga Simpatisan
**
Offline Offline

Posts: 11


WWW
« on: 23 July 2009, 12:37:17 PM »

Menjelang pemilihan pengurus RT di mana aku tinggal, warga mulai disibukkan dengan dugaan-dugaan siapa yang akan menjadi pengurus RT. Aku sebenarnya tidak ambil peduli dengan hal itu karena aku toh hanya warga biasa. Beberapa hari kemudian aku didatangi oleh seorang pemuda yang aku tahu dia cukup aktif di kemasyarakatan untuk meminta bantuan kepadaku mengumpulkan warga dalam pemilihan pengurus RT.

Dengan dibantu beberapa warga akupun mengumpulkan warga yang masuk ke dalam wilayah RT-ku dan aku melobi seorang warga untuk bersedia kediamannya yang cukup luas dijadikan tempat berkumpul.

Tiba saatnya sesi pemilihan, tidak ada yang bersedia untuk menjadi ketua RT, tidak yang tua, tidak yang muda, tidak yang sudah menikah, maupun yang masih bujangan, tidak ada yang bersedia. Seketika itu juga pandangan mereka tertuju ke arahku dan menawarkan aku untuk menjadi ketua RT. Aku tanya, "lho..lho.. kenapa saya" Alasannya cukup singkat, "karena… yaaa.. gitu deh"

Akupun menerima alasan itu. Namun aku berkata dalam hati, "Salafiyyin koq menjadi ketua RT.. kira-kira apa kata ikhwah yaa". Wilayah aku yang pimpin berjumlah 80 KK. Dalam jumlah itu aku belum melihat ada Hizbiy di sana, tidak ada juga Ahlul Bid’ah di sana. Wargaku terbagi menjadi dua, yakni golongan muslim yang awam dan golongan Nashrani.

Aku pun mulai belajar bagaimana cara para shahabat mengatur rakyatnya dan sering-seringlah aku berkonsultasi dengan asatidzah dan ikhwah tentang mengelola warga kemasyarakatan. Aku akan berusaha sekuat mungkin dan mencari celah-celah agar aku tidak melakukan perkara-perkara yang melanggar syariat. Bagiku tidak ada kata "darurat" di sini yang sering didendangkan Ikhwanul Muslim yang melegalkan demokrasi dan selalu selalu dan selalu melanggar syariat dengan alasan darurat.

Dalam benakku aku sudah berpikir-pikir kira2 apa saja yang bakal aku temui dalam pelanggaran syariat dan aku sudah mencari-cari celah untuk mencari solusinya.

Di sisi lain aku masih bersyukur dan bangga dengan wargaku. Seawam-awamnya mereka, mereka masih ingin memberikan perwaliannya kepada orang-orang yang mereka anggap shalih dan berilmu.

Prioritas dalam tugasku ke depan adalah aku harus dekat kepada ulama. Jika di suatu hari memang aku harus melangggar syariat, lebih baik aku mengundurkan diri !!

Tugas terberatku dan wargaku adalah menghambat laju kristenisasi yang mulai ngintip masuk ke wilayah RT tetangga, wal’iyadzbullah wa nasalullaha salamatan ‘afiyah, jangan sampai deh mereka beraksi di wilayahku. Makanya kami segera swadaya membangun musholla sebagai markaz masyarakat. Selama ini belum ada mushola di wilayahku, kami sholat di masjid jauh dan sebagian sholat di rumah (yg masih belum paham wajibnya sholat berjamaah di masjid).

Kemudian pekerjaan lain yang tidak kalah pentingnya adalah mendata setiap warga wilayahku dan menyisir warga yang selama ini gak ketahuan ternyata kumpul kebo, atau suka menginap lawan jenis yang bukan mahram ke dalam rumahnya. Ngeri kalau di lingkungan kita ada pelaku zina atau pelaku kesyirikan.

Perlu aku sampaikan kepada seluruh warga RT-ku, Agustus kita tidak ada acara tujuh belas-tujuh belasan yach, lebih baik uangnya kita salurkan untuk pembangunan musholla dan bikin portal keamanan.

Yaa Allah, tolonglah aku mengatur urusan kaum Muslimin. Bantulah aku dalam membantu urusan kaum Muslimin. Wahai Rabba, janganlah kami menjadi firnah bagi orang-orang kafir, janganlah kami menjadi fitnah bagi orang-orang yang zhalim, dari orang-orang fasiq. Tiada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan-Mu yang maha Tinggi dan maha Agung. Aamiin.

Tolong saran dan masukan dari ikhwah sekalian sangat aku harapkan dalam mengatur urusan sosial kemasyarakatan.
Logged

Menebar Ilmu dan Tegakkan Sunnah
abuhusain
Global Moderator
Warga Rajin
*****
Offline Offline

Posts: 71



« Reply #1 on: 24 July 2009, 09:49:35 AM »

Masya Allah akhy, baarokallohufiik. Semuanya memang tergantung keadaaannya disana, sehingga antum yang lebih tau bagaimana yang terbaik melaksanakan amanah itu disana insya Allah. Insya Allah ini sekedar masukan dari ana;
1. antum tetap bersikap tegas dalam hal-hal yang menyangkut urusan syar'i, juga yang bersinggungan dengan hal-hal yang diharamkan. Karena tidak ada toleransi dalam melanggar keharaman. terkadang dari pelanggaran kecil jika kita remehkan lama-lama bisa menjadi besar.
2. jika ada yang bertanya atas keputusan yang kita ambil, maka antum tetap bersikap lemah lembut dalam menjelaskan, karena sebagian besar mereka adalah awam, belum mengetahui, dan insya Allah mencintai kebenaran dan mengakuinya selama masih bersih di atas fitrahnya.
3. antum ajaklah mereka kepada dakwah ini dengan lemah lembut dan sabar, sesuai keadaan yang ada pada mereka. Masya Allah jika satu kampung antum jadinya mengaji semua dengan hidayah dari Allah melalui antum...
4. mengenai teknisnya, misalnya bisa antum mengusahakan perpustakaan buku-buku salafy di masjid setempat, membuat kajian rutin dari ustadz salafy. Insya Allah tersebarnya dakwah itu menjadi lebih mudah dengan adanya pemimpin yang memang mendukung dakwah.

Ana kutipkan hadits berikut yang bisa menjadi pelajaran bagi kita semua insya Allah:

Dari Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu'anhu, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
كُلُّكُمْ رَاعٍ فَمَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ فَأَمِيرُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْؤُولٌ عَنْهُمْ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْؤُولٌ عَنْهُمْ، وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ بَعْلِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْؤُولَةٌ عَنْهُمْ، وَالْعَبْدُ رَاعٍ عَلىَ مَالِ سَيِّدِهِ وَهُوَ مَسْؤُولٌ عَنْهُ، أَلَا فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
“Setiap diri kamu adalah pemimpin, maka dia bertanggung jawab terhadap yang dipimpinnya. Seorang amir (penguasa) yang membawahi rakyatnya adalah pemimpin dan dia bertanggung jawab terhadap mereka. Seorang suami adalah pemimpin atas penghuni rumahnya (keluarga) dan dia bertanggung jawab terhadap mereka. Seorang istri adalah pemimpin atas rumah suaminya dan anak-anaknya, dan dia bertanggung jawab terhadap mereka. Seorang budak adalah pemimpin atas harta majikannya dan dia bertanggung jawab terhadapnya. Ingatlah, tiap-tiap kamu adalah pemimpin dan setiap pemimpin bertanggung jawab terhadap yang dipimpinnya.” (HR. Al-Bukhari no. 2554 dan Muslim no. 1829)
Logged
Pages: [1]   Go Up
Send this topic | Print
Jump to: