renggap
Site Admin
Sejak: 08 Desc 2007
Lokasi: Surabaya Dikirim: Kam Jan 10, 2008 5:29 pm
Ini hanyalah testimonial dari ana tentang Ustadz Zainul Arifin
Ana masih ingat ketika ana baru kenal dakwah salafiyyah sewaktu semester 2, ana dikirimi beberapa artikel dari seorang sahabat ana sejak SMA dari
www.salafy.or.id, yang berjudul "mengungkap selubung sesat Hizbut Tahrir". Dari judulnya saja sudah membuat ana shock, tapi kemudian ana paksakan untuk membaca semua artikel tsb. Dan alhamdulillah, ana melihat ada sesuatu yg "berbeda" dari yg selama ini ana dapatkan, yaitu "pendalilan" yg jelas dari Al Qur-an dan Sunnah.
Ana mendownload jadwal taklim di Surabaya dari
www.salafy.or.id, dan dengan seorang teman ana berkunjung ke Mahad Abu Bakar. Ana juga sempat kebingungan mencarinya, tapi akhirnya ketemu juga.
Taklim pertama yg ana ikuti dg ust Zain membahas ttg tauhid (ana lupa apakah dari Kitabut Tauhid atau Al Ushuluts Tsalatsah), dan buanyak sekali pertanyaan yg ada di kepala ana waktu itu. Ana bertanya pada seorang ikhwan, "mas kok nggak ada sesi tanya jawabnya, gimana klo saya mau tanya?". Si ikhwan menjawab, "kamu tulis di kertas aja, atau langsung tunjuk jari dan bertanya (secara lisan)".
Di beberapa pertemuan berikutnya, ana mulai sempatkan bertanya secara lisan sewaktu ustadz masih ada di mimbar. Memang dasarnya mu'tazilah, ana berusaha membantah setiap jawaban ustadz Zain dengan akal. Tapi, subhanallah, justru semakin ana membantah, ustadz Zain semakin santun menjawab bantahan ana dengan disodorkan dalil-dalil yang ada.
Ini sangat membuat ana tertegun, karena berdasarkan pengalaman ana ketika dulu sempat ngaji sama ustadznya PKS, semakin sengit ana membantah, semakin sengit pula si ustadz membantah, tapi kalau si ustadz kalah dan sudah kehabisan kata-kata, biasanya langsung membelokkan topik pembicaraan atau berkata, "maaf mas, sekarang kita tidak sedang membahas topik itu.", Bah, bilang saja kalau antum tidak tahu, kok susah amat. Dari sebab inilah ana meninggalkan PKS dan semakin mantap berkubang di HT. Cuma yang ana garis bawahi disini, bahwa kebiasaan asatidz di PKS maupun di HT ketika berbantah-bantahan selalu mengedepankan akal dan logika, sedangkan ana melihat sesuatu yg berbeda dari ustadz Zain, yang lebih mengedepankan dalil dan sunnah daripada akal, dan demikianlah asatidz Salafy yang ada insya Allah.
Pada lain kesempatan, ana juga siap "berbantah-bantahan" dengan ustadz Zain bahwasanya Salafy adalah firqah yang tidak ada bedanya dengan firqah yang lainnya. Sekali lagi, subhanallah, ana dibuat tertegun dengan jawaban-jawaban ustadz Zain yang ada diluar jangkauan akal ana yang lemah. Jawaban ustadz Zain yang tenang, berdalil, santun, tapi mempunyai tingkat shock therapy yang tinggi. Dengan dalil Al Qur-an dan Sunnah beliau memberikan jawaban dan dengan jawaban-jawabannya itulah, ana jadi bisa membedakan aqidah Salafy dengan aqidah hizbi. Alhamdulillah, inilah saat-saat awal transformasi aqidah ana dari mu'tazilah sekaligus hizbi kepada aqidah Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam dan para shahabatnya. Ahsanallahu ilaika wa barakallahu fiik yaa ustadz.
Beberapa kali ketika ana punya syubuhat dalam agama ini, selesai taklim ana sempatkan mengobrol dengan ustadz Zain. Suatu saat ana mendiskusikan ttg syubhat bahwasanya ada seorang putri bangsawan Arab Saudi yang membuat buku dalam rangka untuk "menyingkap" bagaimana struktur dalam kerajaan Arab Saudi mengekang kebebasan wanita (pengarang adalah seorang feminis). Ustadz Zain menceritakan tentang sejarah si feminis tadi, dan memang ia berasal dari keluarga bangsawan Arab Saudi, pada akhirnya kewarganegaraannya dihapus oleh pemerintah Arab Saudi dan ia diusir dari negaranya berdasarkan fatwa Syaikh bin Baz rahimahullah. Akhirnya dia ditampung di negeri kufur Amerika. Ustadz Zain juga memberi faedah tentang pentingnya ilmu sehingga seseorang bisa mulia di sisi Allah dan di sisi manusia. Seorang seperti syaikh bin Baz rahimahullah yang berkewarganegaraan Yaman, bisa mulia dan kata-katanya dipatuhi oleh pemerintah Arab Saudi dikarenakan Ilmu yang dimilikinya.
Pada kesempatan itu pula ustadz Zain mengatakan bahwa ia berencana pindah dari Surabaya. Dan pada hari sabtu, 12 Januari 2008 (3 Muharram 1429) ustadz Zain akan ke Batam. Duh, Surabaya ini jadi sepi kalau tidak ada ustadz Zain. Semoga Allah mempertemukan kita insya Allah, kami sangat menyayangi anda karena Allah.
-Abu 'Umar Rengga-
Rekaman nasehat ustadz Zainul 'Arifin kepada Thullabul 'ilmi di Surabaya saat taklim terakhir di Unair.
_________________
Allah Ghayatuna...
Muhammad Qudwatuna...
Al Qur-an Dusturuna...