Forum Ukhuwah Ahlussunnah
Welcome, Guest. Please login or register.

08 September 2010, 12:22:10 PM

Alhamdulillah forum ukhuwah telah online kembali, kini dapat diakses lebih mudah melalui WWW.AL-ILMU.US


Pages: [1]   Go Down
Send this topic | Print
Author Topic: Kumpulan Perkataan Para Ulama Salafusshalih disini  (Read 1981 times)
0 Members and 1 Guest are viewing this topic.
Abu Fauzan
Warga Simpatisan
**
Offline Offline

Posts: 6


« on: 22 June 2009, 08:04:15 AM »

Bismillah,
Ikhwah Sekalian thread ini merupakan kumpulan Perkataan Para ulama salafusshalih yg kebanyakan dari mereka dikenal memiliki perkataan yang ringkas dan memiliki banyak faidah, bagi ikhwah yg ingin posting perkataan para ulama salaf dipersilakan....
Barakallahu Fiikum

Ana Mulai Yah.... ^_^

Berkata Al Imam Abul Faraj Zainuddin Abdurrahman bin Ahmad bin Rajab di dalam bukunya, Fadlul'Ilm as Salaf Alaa 'Ilm al-Khalaf pada halaman 45, bahwa Imam al-Auza'i rahimahullahu ta'ala mengatakan:

العلم ما جاء به أصحاب محمد صلى الله عليه وسلم فما كان غير ذلك فليس بعلم

((Ilmu itu adalah apa-apa yang datang dari Shahabat Muhammad Shalallahu 'alaihi wassalam, maka apa-apa yang datang dari selain itu maka bukanlah termasuk Ilmu))
« Last Edit: 22 June 2009, 08:06:24 AM by Abu Fauzan » Logged
Abu Fauzan
Warga Simpatisan
**
Offline Offline

Posts: 6


« Reply #1 on: 22 June 2009, 08:27:55 AM »

Lagi....

Umar bin Abdulaziz rahimahullah mengatakan


إِنِ اسْتَطَعْتَ فَكُنْ عَالِماً


Jika engkau mampu, maka jadilah seorang ulama'

فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَكُنْ مُتَعَلِّماً


Jika engkau tidak mampu, maka jadilah seorang penuntut ilmu

وَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَأَحَبَّهُمْ


Jika engkau tidak mampu maka cintailah mereka


وَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَلا َتَبْغَضُهُمْ.


Jika engkau tidak mampu, maka janganlah engkau membenci mereka

(جَامِعُ ْبَيَانِ الْعِلْم وَ فَضْله #١٤٣)
(Jami'ul bayanil 'ilmi wa fadhlihi halaan 143)
Logged
Al-Ilmu.Com
Administrator
Warga Teladan
*****
Offline Offline

Posts: 359



WWW
« Reply #2 on: 30 June 2009, 06:05:36 AM »

masya Allah...
ini ana kutip dari footernya email ustadz Dzulqarnain:

Adalah Ar-Rabi' Bin Al-Khutsaim -semoga Allah merahmati beliau-, bila beliau ditanya, "Bagaimana engkau di pagi hari ini?" Beliau menjawab, "Kami masuk di waktu pagi sebagai orang-orang yang lemah dan berdosa, memakan rezkinya dan menunggu ajalnya." [Mushannaf Abdurrazzaq 8/207]

Berkata Ibnu Taimiyah -semoga Allah merahmatinya- , "Tiada kenikmatan di dunia ini yang menyerupai kenikmatan akhirat selain dari nikmat keimanan." [Majmu' Al-Fatawa 28/31]
Logged

-- Belanja Online Produk Islami Bermanhaj Salaf? Kunjungi http://al-ilmu.com
andi abu muhammad albugisy
Warga Simpatisan
**
Offline Offline

Posts: 6

Jadilah seperti mereka...!


« Reply #3 on: 09 July 2009, 06:04:56 PM »

Imam Al-Barbahari berkata:

"ketahuilah, bahwa kedhaliman penguasa tidak mengurangi sedikitpun kewajiban yang diwajibkan oleh Allah melalui lisan Rasul-Nya (yakni untuk taat kepada penguasa), kedhaliman dia (penguasa) atas dirinya dan ketaatan serta kebaikanmu bersamanya, sempurna insya Allah, yakni ketaatan kau berjamaah, shalat Jum'at dan jihad bersamanya, dan bergabunglah bersamanya dalam setiap amalan ketaatan. Bila kamu melihat seseorang mendoakan kejelekan buat penguasa maka ketahuilah bahwa dia pelaku bid'ah. Dan bila kamu mendengarkan seseorang mendoakan kebaikan buatnya, maka ketahuilah bahwa dia itu Ahlus Sunnah, insya Allah."

(Syarhus Sunnah 51)
Logged

Tidak beriman salah seorang diantara kalian sampai dia mencintai untuk saudaranya apa-apa yang dia juga cintai untuk dirinya.
renggap
Ahlussunnah
Blogger Salafiyyin
Warga Rajin
*****
Offline Offline

Posts: 60


..:: Ebuddy ::..


WWW
« Reply #4 on: 29 July 2009, 01:29:19 PM »

-> Abu Harun :
mungkin perbedaan demografis mempengaruhi kita dalam menangkap dan mendefinisikan sesuatu, Allahu a'lam. Sudah tidak usah diperpanjang mslh yg ini.

-> Akh Munajat:
O iya akh, apa yg dikatakan akh Yudhafi itu pernah kepikiran di kepala ana, waktu itu yg ana pkirkan, "knp Munajat or admin forum alilmu ini me-lock dan ngedit thread ttg mslh fitnah daurah ini? sdgkan dia sendiri mempublikasikan sesuatu yg jd fitnah tsb di forum?"

Allahu a'lam... ana bkn org yg tawaqquf (insya Allah) dlm mslh tsb, karena telah jelas penjelasan dr ustadz Afifuddin wktu taklim di Sby, tapi ttg pikiran ana diatas, ana tdk ingin memperdebatkannya, mengingat perlunya kita utk mengedepankan persatuan, Allahu a'lam.

maafkan ana jika ana mempunyai kesalahan.
Logged

Yaa Musharrifal Quluub, Sharrif Qalbii 'Ala Tha'atik...
Al-Ilmu.Com
Administrator
Warga Teladan
*****
Offline Offline

Posts: 359



WWW
« Reply #5 on: 29 July 2009, 01:58:31 PM »

kayaknya posting ini salah ruang..
Logged

-- Belanja Online Produk Islami Bermanhaj Salaf? Kunjungi http://al-ilmu.com
abuhusain
Global Moderator
Warga Rajin
*****
Offline Offline

Posts: 71



« Reply #6 on: 29 July 2009, 02:40:07 PM »

akhy ana salin di sini ya apa yg kami pegang:

Kami bersikap tawaquf dalam masalah fitnah Yaman dan berusaha menepati apa yang dinasehatkan asy-Syaikh Robi' hafidzhahullah, dan asatidzah yang kami lihat lebih sesuai dengan nasehat beliau.
Jika antum mengharuskan kami ikut mencela, menghajr, dan mentahtdzir, Dammaj, syaikh Yahya, masyayikh lain dan asatidzah yang bersamanya maka afwan kami berbeda pendapat dengan antum.
Jika antum mengharuskan kami mencela, menghajr, dan mentahdzir syaikh Abdurrahman al Mar'i, masyayikh lain dan asatidzah yang bersamanya, maka afwan kami berbeda pendapat dengan antum.
Kami melihat dan mengakui bahwa kebenaran di satu sisi ada pada pihak yang satu dan di sisi lain berada di pihak yang lain, dan kami melihat dan mengakui pula bahwa kekeliruan ada di pihak yang satu dan di sisi lain juga berada di pihak yang lain. Karena memang kebenaran maupun kekeliruan itu sifatnya tidaklah selalu bersama seseorang senantiasa, dan tidak ada yang bisa menjamin. Tapi dalam hal ini, diam dari itu semua adalah jalan yang lebih selamat menurut kami dan lebih sesuai nasehat asy-Syaikh Robi'. Semuanya sesuai ilmu yang Allah pahamkan kepada kami sesuai keadaan yang kami ketahui, wallahu a'lam.
Kami mengutip, mengambil faedah, dan menyiarkan apa saja dari kedua pihak selama itu yang mengandung ilmu, pembahasan ilmiah, dalam masalah syariat ini secara umum. Bukan yang berisi pembahasan hal-hal yang seputar fitnah, bukan membahas pembelaan maupun bantahan atas pendapat yang sedang diperselisihkan, bukan pula berisi celaan, hajr dan tahdzir (baik itu nyata maupun tuduhan) seputar masalah yang menjadi fitnah antara satu dan yang lain.

Jadi menurut kami bahwa publikasi dauroh tersebut tidaklah masuk ke dalam masalah fitnah, karena muhadharah itu adalah kajian ilmiah, bukan asal dari fitnah. Didalamnya dibahas masalah agama ini bukan masalah fitnah. Jika saja yg dibahas adalah masalah fitnah maka tentu kami diam darinya. Sedangkan syaikh Robi' telah menegaskan untuk diam dari permasalahan fitnah. Tapi ketika ada yg mencoba menyusupkan pembicaraan ttg fitnah di dalamnya maka kami menghapus dan mengunci ruangnya. Sekaligus ucapan kami yang menyerempet fitnah juga kami hapus juga dan kami cukupkan informasi itu saja.

Inilah yang kami lihat sesuai dengan nasehat Syaikh Robi' bahwa kedua pihak masihlah ahlussunnah, maka tidak berhak kami menghajr salah satunya, silahkan dibaca kembali. Beliau juga menasehati kita untuk diam, maka kami diam ketika yang dibicarakan adalah masalah yg menjadi sumber fitnah yaitu perbedaan pendapat antara syaikh Yahya dan syaikh Abdurrahman al Mar'i. Hendaknya tempatkan pada tempatnya, yaitu muhadharah ilmiah dari kedua pihak adalah masih boleh kita ambil faedahnya sekalipun berbeda pendapat dalam hal-hal yang diperselisihkan. Pisahkanlah hal-hal yang memang itu masalah fitnah dan hal-hal yg bukan masalah fitnah.

Permasalahan selanjutnya, mengapa ketika ada asatidzah yang bersikap tawaquf namun juga ikut di hajr dan ditahdzir? misalnya dengan dilarang mengisi kajian di daerahnya. Ada juga yang majelis ilmunya menjadi kosong bahkan pondoknya jadi sepi lantaran mudirnya bersikap tawaquf lalu ikhwah diserukan menjauhinya. Silahkan antum dengar kembali rekaman nasehat syaikh al Bukhari yang cukup keras kepada para asatidzah ketika sabtu sore dan tadi pagi, beliau tidak membahas kitab, tapi memberi nasehat yang sangat penting bagi asatidzah dan ikhwah di masa fitnah ini dalam berbagai permasalahan secara umum yang insya Allah mencakup. Begitu juga nasehat syaikh Robi' yang via telepon itu sangat penting dan tegas isinya.

Termasuk juga dalam nasehat syaikh Robi' dalam masalah yaman adalah untuk diam dari fitnah, tidak saling mengeluarkan bantahan-bantahan, pembelaan-pembelaan, menyangkut apa yang sedang diperselisihkan, karena itu semua hanya akan menambah runyam keadaan. Tidakkah antum sadar, ketika mereka terus mencela Syaikh Yahya dan Dammaj entah itu dalam rangka membela diri ataupun membantah pihak satunya, maka secara tidak langsung mereka telah melanggar nasehat syaikh Robi'. Sebaliknya juga demikian dari pihak satunya kepada pihak satunya. SEDANGKAN KAMI DIAM DARI ITU SEMUA. Dan kami tidak menutup faedah ilmiah yang bisa didapat dari kedua pihak selama itu tidak ada kaitannya dengan tema yang diperselisihkan, karena kedua pihak masih ahlussunnah sebagaimana ucapan Syaikh Robi'.

Jika antum mengikuti pihak ustadz Luqman dan yang bersamanya dalam mentahdzir syaikh Yahya, dammaj, dan asatidzah yang bersamanya, ya tafadhol selama antum punya hujjah. Dan jika yang lain mengikuti pihak ustadz Abu Hazim dalam mentahdzir syaikh al Mar'i dan asatidzah yang bersamanya, ya tafadhol selama antum punya hujjah. Terlepas mana hal yang benar mana hal yang keliru dari masing-masing pihak itu kami pun punya pandangan, tapi tidak perlu kami ungkapkan secara terbuka, karena kami dinasehati diam dari itu semua, karena yang kami yakini bahwa kedua hal tersebut adalah tidak sesuai dengan nasehat syaikh Robi' yang menasehati bahwa diam adalah yang terbaik. Diamnya kami dari pihak A tidaklah melazimkan kami menyepakati dan mendukung seluruh dari mereka, begitupun sebaliknya diamnya kami dari pihak B juga tidak melazimkan bahwa kami menyepakati dan mendukung seluruh dari mereka. Ini sudah ana katakan di atas. Syaikh Robi' pun tidak mengisyaratkan adanya pelaziman demikian. Tapi diamnya kami adalah karena ini masalah fitnah dan begitulah nasehat syaikh Robi'. Kita diam dari hal-hal yang menyangkut tema fitnah ini, jangan mengkait-kaitkan apa yang bukan urusan fitnah atau perselisihan sebagai yang harus di hajr juga, sehingga mereka menghajr secara keseluruhan padahal tidak ada kaitannya dengan urusan fitnah (misalnya majelis ilmu, jual beli, mengucap salam, dll). Ini telah diperingatkan dengan keras oleh syaikh al Bukhari bbrp hari lalu!

Perhatikanlah fikih dalam nasehat syaikh Robi' untuk semuanya diam. Salah satunya yaitu agar menjadi lembut hati-hati pihak yang berselisih dan memudahkan islah dan persatuan. Itu juga uslub yang jelas dalam rangka meredam fitnah. Lihatlah bagaimana jika keluar celaan dari yang satu lantas dibalas baik itu dengan bantahan maupun pembelaan, kemudian muncul lagi bantahan dan pembelaan dari pihak satunya, begitu terus silih berganti dari masing-masing pihak, maka bagaimanakah fitnah ini akan selesai? Lantas apa yang telah terjadi sekarang, hingga di kalangan ikhwah pun jadi saling benci antara yang membela pihak yang satu dan pihak yang lain. wallahul musta'aan.

Jika saja kami hanya mengikuti hawa nafsu untuk masuk ke dalam fitnah dan kami membela salah satunya, maka tentu saja jika kami menginformasi dauroh ngawi maka kami tidak akan mendukung dauroh bantul yang notabene dikoordinasikan oleh ust Luqman Ba'abduh yang berselisih dengan ustadz Abu Hazim. Tapi sikap kami tidaklah demikian, karena keduanya adalah muhadharah ilmiah dalam perkara agama ini secara umum, keduanya bersumber dari da'i ahlussunnah. Tidak ada yang direncanakan untuk membahas masalah fitnah Yaman secara khusus, jika pun ada maka kami berlepas diri dan kami diam darinya.
Insya Allah sudah cukup jelas penjelasan ana ini. Wallahu ta'ala a'lam.
« Last Edit: 29 July 2009, 03:19:08 PM by abuhusain » Logged
abuhusain
Global Moderator
Warga Rajin
*****
Offline Offline

Posts: 71



« Reply #7 on: 29 July 2009, 02:56:51 PM »

Oya satu lagi. Memang tentu saja, menurut asatidzah di pihak yang satu bahwa dauroh ngawi adalah masalah fitnah dan tidak mau hadir, karena diadakan oleh ust Abu Hazim yang berselisih pendapat dengannya. Sedangkan sebaliknya dari mereka juga menilai dauroh bantul itu tidak benar karna diadakan ustadz Luqman yang berselisih pendapat dengannya, maka mereka tidak mau hadir juga. Maka itu, jika antum menuduh bahwa dauroh ngawi itu termasuk masalah fitnah maka memang demikianlah pendapat itu akan keluar dari pihak yang bersebrangan dengan mereka, sebagaimana mereka juga tidak mau hadir dan tidak mendukung dauroh bantul karena itu diadakan orang yg terlibat masalah fitnah dan membela syaikh Al Mar'i menurut mereka.

Sedangkan kami tidak ada urusan dengan pendapat dari kedua pihak yang demikian itu dan kami tidak mau dipengaruhi maupun ditekan kedua pihak, karna jelas saja satu sama lain saling menuduh bahkan mungkin akan menganggap yang tidak ikut dengan pendapatnya itu keluar dari ahlussunnah dan berhak dihajr juga. Adapun kami melihat bahwa kedua dauroh tidak ada sangkut pautnya dengan masalah fitnah yaman, karena keduanya adalah muhadharah ilmiah biasa yang sama-sama disampaikan dari para da'i ahlussunnah. Terlepas dari hal-hal yang diperselisihkan mana yang benar dan keliru dari masing-masing pihak, itu bisa saja kami bahas dengan pendapat yg kami pegangi jika kami mau, tapi sekali lagi, asy-Syaikh menasehati anak-anaknya utk diam dari masalah fitnah, dan memang itulah yang terbaik insya Allah. Demikian insya ALlah jelas.
« Last Edit: 30 July 2009, 05:28:03 AM by Al-Ilmu.Com » Logged
abu haidar mohammad
Warga Simpatisan
**
Offline Offline

Posts: 14


« Reply #8 on: 29 July 2009, 05:11:52 PM »

Ketika nge-klik thread ini, kirain ucapan ulama-ulama salaf.  Ternyata....
Tolong postingan yang tidak sesuai tema dihapus (jika tidak bermanfaat) atau dipindahkan thread yang baru.  Jika dibiarkan,i akhirnya kita terbiasa tidak baik dalam diskusi yaitu OOT.
Logged
Al-Ilmu.Com
Administrator
Warga Teladan
*****
Offline Offline

Posts: 359



WWW
« Reply #9 on: 29 July 2009, 05:21:14 PM »

afwan berhubung kami belum menemukan cara memindah postingan ini maka belum bisa dipindahkan. dengan ini pembicaraan di luar tema dicukupkan saja di sini. yang ingin menyambung atau bikin tread baru silahkan di ruang lain.
Logged

-- Belanja Online Produk Islami Bermanhaj Salaf? Kunjungi http://al-ilmu.com
Abu Harun | Sunniy Salafy
Sunniy
Warga Simpatisan
**
Offline Offline

Posts: 11


WWW
« Reply #10 on: 03 August 2009, 12:13:40 PM »

Bismillah,

Berkata Yazid ibnu Amiir, "Mu’adz bin Jabal setiap kali duduk di majelis ilmu, beliau selalu menasehati dan mengingatkan murid-muridnya :

“Alloh itu Maha Bijaksana dan Maha Adil, binasalah orang-orang yang ragu (bingung dan bimbang). Hati-hati kalian dari kesesatan (kesalahan atau kekeliruannya) seorang ‘Alim. Hati-hati kalian, dimana Syaithon akan mengucapkan kesesatan melalui lisan yang dianggap ‘Alim tsb. Dan bisa pula seorang Munafik berkata benar (Al-Haq) yang keluar dari lisannya.”

Aku (Yazid Ibn Amiir) bertanya kepada Mu’adz : ‘Bagaimana aku tahu wahai Mu’adz -semoga Alloh merahmatimu- , bagaimana aku bisa membedakan seorang ‘Alim yang mungkin keluar dari lisannya kalimat dholal yang merupakan kalimat syaithon. Bagaimana pula aku tahu bahwa yang Munafik ini berkata Haq ?’

Berkata Mu’adz : “Jauhi olehmu ucapan seorang ‘Alim yang rancu, yang samar. Dan apabila seseorang mendengar ucapan itu, dia akan berkata ‘apa ini?’ ‘bagaimana fulan bisa berkata seperti ini?’ Dan jangan kamu terhalangi untuk tetap mengambil ilmu darinya. Maka sesungguhnya orang yang ‘Alim itu akan kembali kepada Al-Haq. Terimalah kebenaran itu ketika kamu mendengarnya. Sesungguhnya kebenaran itu adalah cahaya.” [HR. Abu Dawud dan selainnya]

Subhanalloh…atsar diatas menunjukkan perhatian dan semangatnya para tabi’in sebagai a’immatu salaf untuk menyelamatkan agama mereka dan menyelamatkan diri mereka. Sehingga mereka bertanya apa yang tidak mereka pahami.

Pokok inilah yang diajarkan oleh Mu’adz dan itu pula yang diajarkan oleh para Ulama serta Masyaikh kita. “Seorang hakim/’Alim yang melakukan kesalahan, selama dia itu AHLUSSUNNAH , dia berpijak diatas pondasi Sunnah, ma’ruf aqidahnya Sunnah, ma’ruf manhajnya Sunnah, wala’nya kepada sunnah dan Ahlussunnah, kalaupun keluar darinya kesesatan dan kesalahan, jangan sampai kamu tinggalkan dia, jangan sampai kamu terhalang darinya untuk mendapatkan ilmu darinya dan belajar darinya.”

Ini merupakan bantahan tegas pada hadadiyin dan yang segaris dengan mereka. Mereka meng-klaim diri lebih cemburu kepada sunnah, lebih cemburu kepada kebenaran. Namun nyatanya mereka salah dalam mendudukkan ketergelinciran yang ada pada ulama.

Para A’immah dan para ulama yang telah diketahui perjuangannya terhadap sunnah, kecintaannya kepada sunnah, terkadang mereka tergelincir dalam kesalahan.

Jangan kamu terhalang darinya, karena kalau dia itu Ahlussunnah, maka akan kembali kepada kebenaran, ruju’ ketika diingatkan dan dinasehati. Oleh karena itu, jangan kamu terhalangi untuk tetap mengambil ilmu darinya. Kalau tidak demikian, maka tidak akan ada orang yang tersisa di dunia ini. Siapa orang yang sempurna selain Rosulullah sholallohu ‘alaihi wasallam???

Kalian belajar pada fulan, “ah…Fulan begini dan begitu,” Kemudian kalian tinggalkan Fulan, lalu belajar pada Fulan lain, “ah…Fulan sempat ucapkan begini dan begitu..” Dan begitulah, siapakah manusia yang sempurna ???

Ambil apa yang bisa kamu manfaatkan dari ilmunya selama dia itu Ahlussunnah, selama dia diatas manhaj, di atas aqidah yang haq. Ini merupakan ajaran manhaj Ahlussunnah.

Jangan hanya karena kekeliruan atau kesesatan yang keluar dari lisannya membuat seseorang meninggalkannya, bahkan dijauhi, dibenci, dimusuhi.

Mana didikan Sunnah pada kita ? Batasan apa kemudian seseorang itu sampai di baro’, sehingga ada kebencian dan permusuhan ?

Telah diajarkan dalam Sunnah, terima kebenaran itu ketika kamu dengar darinya. Apa yang menjadi kesalahannya yang keluar dari lisannya, maka buang, tolak, nasihati, bimbing. Karena seperti kata Mu’adz, “kebenaran itu ada cahayanya.” Kebenaran itu sesuatu yang gamblang, yang jelas dan hati itu enak menerimanya.

Hal ini berbeda dengan kebatilan, sesuatu yang tidak enak didengar, hati pun ragu menerimanya. Ini diingatkan oleh Mu’adz untuk menguatkan bahwa agama ini hanya datang dari Alloh ‘azza wa jalla, yang datang dari Rosulullah sholalohu ‘alaihi wasallam, dan yang dipahami para shahabatnya.

Sehingga ketika datang kesalahan dari seorang ‘Alim, seperti kata Mu’adz, “jangan diikuti”, walaupun bukan berarti dengan itu dia dibaro’/dimusuhi.

Sebaliknya, seorang Munafik, dia bisa berkata benar/Al-Haq. Oleh karena itu, banyak yang berkata, “Apanya yang salah ? Saya dengar ceramahnya masyaAlloh, dan yang dikaji juga sama buku-bukunya.”

Tetapi ingat, itu adalah perangkap baginya. Untuk menggiring orang kepada kesesatan yang terselubung. Ini adalah timbangan dan nasehat dari Mu’adz bin Jabal rodhiyallohu ‘anhu.
 
[ditranskrip dari Kajian Kitab Fathul Majid Bab 22 hal.326 yang dibahas oleh Al-Ustadz Usamah Mahri]
« Last Edit: 03 August 2009, 12:32:41 PM by Abu Harun | Sunniy Salafy » Logged

Menebar Ilmu dan Tegakkan Sunnah
Pages: [1]   Go Up
Send this topic | Print
Jump to: